<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pendamba Surga</title>
	<atom:link href="http://pendambasurga.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pendambasurga.wordpress.com</link>
	<description>Hanyalah seorang hamba yang dhaif di hadapan Rabbnya.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Feb 2009 12:33:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pendambasurga.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pendamba Surga</title>
		<link>http://pendambasurga.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pendambasurga.wordpress.com/osd.xml" title="Pendamba Surga" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pendambasurga.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mengenal Kucing Di Sekitar Kita</title>
		<link>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/18/mengenal-kucing-di-sekitar-kita/</link>
		<comments>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/18/mengenal-kucing-di-sekitar-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 00:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akhidedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendambasurga.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal Alhamdulillah wa sholaatu wa salaamu ‘ala rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Maksud judul pada posting kali ini bukanlah untuk sekedar mengenal kucing, namun kita akan lebih jauh meninjau hewan yang satu ini dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat. Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendambasurga.wordpress.com&amp;blog=6457982&amp;post=24&amp;subd=pendambasurga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Alhamdulillah wa sholaatu wa salaamu ‘ala rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.<br />
Maksud judul pada posting kali ini bukanlah untuk sekedar mengenal kucing, namun kita akan lebih jauh meninjau hewan yang satu ini dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat.<br />
<span id="more-24"></span><br />
Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ<br />
“Kucing ini tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Malik. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 173 mengatakan bahwa hadits ini shohih)</p>
<p>Sebab Abu Qotadah menyebutkan hadits di atas telah dipaparkan sebelum penyebutan hadits ini. Dalam riwayat Abu Daud diceritakan dari Kabsyah binti Ka’ab bin Malik (dia adalah istri dari anak Abu Qotadah). Wanita ini mengatakan bahwa Abu Qotadah pernah masuk ke rumah, lalu dituangkanlah air wudhu padanya. Kemudian tiba-tiba datanglah kucing. Bejana air wudhu lantas dimiringkan, lalu kucing itu minum dari bejana tersebut. Abu Qotadah pun melihat wanita tadi merasa heran padanya. Abu Qotadah mengatakan, “Apakah engkau heran (dengan tingkahku), wahai anak saudaraku?” Wanita tersebut lantas menjawab, “Iya.” Setelah itu, Abu Qotadah menyebutkan hadits di atas.</p>
<p>Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari hadits di atas</p>
<p><strong>Pelajaran Pertama</strong></p>
<p>Kucing adalah binatang yang suci, namun haram untuk dimakan. Ada suatu kaedah:<br />
<strong><br />
“Segala hewan yang haram dimakan termasuk hewan yang najis.”</strong></p>
<p>Namun, dalam penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, ada pula hewan yang tidak dikatakan najis yang menyelisihi kaedah tadi. Kucing memang pada asalnya najis karena kucing haram untuk dimakan. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan alasan yang tidak kita temui pada hewan lainnya yaitu karena kucing adalah hewan yang biasa kita temui di sekitar kita.<br />
Jadi, faedah dari hadits ini:</p>
<p>semua hewan yang haram dimakan dihukumi najis kecuali hewan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumi suci dengan alasan yang tidak ditemui pada hewan lainnya.</p>
<p><strong>Pelajaran kedua</strong></p>
<p>Kucing memang tidak najis. Namun apakah ini berlaku secara umum? Jawabannya: Tidak. Kucing memang tidak najis pada: air liurnya, segala sesuatu yang keluar dari hidungnya, keringat, bekas minum dan bekas makannya. Namun, pada kotoran dan kencing dari hewan tersebut tetap dihukumi najis. Begitu pula darahnya dihukumi najis. Alasannya, karena kotoran, kencing dan darah pada hewan yang haram dimakan juga dihukumi najis. Jadi, segala sesuatu yang berasal dari bagian dalam tubuh dari hewan yang haram dimakan dihukumi najis, seperti kencing, kotoran, darah, muntahan dan semacamnya.</p>
<p><strong>Pelajaran ketiga</strong></p>
<p>Jika kucing minum dari suatu wadah yang berisi air –sebagaimana diceritakan sebab Abu Qotadah menyebutkan hadits ini-, maka air tadi tidak dihukumi najis, baik kucing tersebut meminumnya dalam jumlah sedikit ataupun banyak. Alasannya, karena air yang ada di bejana Abu Qotadah tadi hanya sedikit yang digunakan untuk berwudhu.</p>
<p><strong>Pelajaran keempat</strong></p>
<p>Tidak ada beda apakah kucing tersebut memakan sesuatu yang najis (semacam bangkai) dalam jumlah yang banyak atau sedikit. Kenapa? Karena kemutlaqan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi. Nabi ucapkan dalam bentuk umum: “Kucing tidaklah najis”. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup baik kucing tadi makan sesuatu yang najis beberapa saat tadi atau sudah dalam waktu yang lama. Jadi tidak boleh dikatakan, “Tadi saya lihat kucing tersebut makan tikus, lalu sekarang minum air dari bejana tersebut. Maka air ini kita hukumi najis.” Hal ini tidak demikian.</p>
<p><strong>Pelajaran kelima</strong></p>
<p>Dari hadits ini, maka benarlah kaedah yang biasa disebutkan oleh para ulama:<br />
<strong><br />
“Al masyaqqoh tajlibut taisir (Karena adanya kesulitan, datanglah kemudahan)”.</strong></p>
<p>Allah telah meniadakan najis dari kucing karena kesulitan yang diperoleh yang sulit kita hindari yaitu kucing adalah hewan yang selalu kita temui dan berada di sekitar kita. Seandainya kucing dihukumi najis padahal dia sering meminum air, susu atau memakan makanan yang ada di sekitar kita, maka ini akan sangat menyulitkan. Oleh karena itu, karena adanya kesulitan semacam ini, datanglah kemudahan yaitu kucing tidaklah najis.</p>
<p><strong>Pelajaran keenam</strong></p>
<p>Najis yang sulit dihindari dimaafkan jika kita terkena najis tersebut. Sebagaimana pendapat sebagian ulama yang menilai darah itu najis (padahal menurut pendapat yang lebih kuat, darah tidaklah najis), mereka mengatakan: darah yang jumlahnya sedikit selain yang keluar dari kemaluan dan dubur dimaafkan.</p>
<p>Pelajaran ketujuh</p>
<p>Tikus juga termasuk hewan yang suci, namun haram dimakan. Alasannya sama dengan kucing, karena tikus adalah hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekitar kita.</p>
<p>Pelajaran kedelapan</p>
<p>Penjelasan dalam hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah sangat menyayangi makhluk-Nya. Di saat kita mendapatkan kesulitan dan sulit dihindari, Allah akhirnya memberi keringanan kepada kita. Bisa dikatakan demikian karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini: “Kucing ini tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita”.<br />
Jadi, syariat Islam dibangun di atas rahmat, kemudahan dan penuh toleran. Kaedah ini dapat pula kita telusuri pada firman Allah:</p>
<p>يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ<br />
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185)<br />
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ<br />
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Hajj: 78)</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</p>
<p>إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ<br />
“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan.” (HR. Bukhari no. 39)</p>
<p>Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menasehati para sahabat yang ingin menghardik Arab Badui,</p>
<p>فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ<br />
“Sesungguhnya kalian diutus untuk mendatangkan kemudahan. Kalian bukanlah diutus untuk mendatangkan kesulitan.” (HR. Bukhari no. 6128)</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</p>
<p>يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا ، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا<br />
“Berilah kemudahan, janganlah membuat sulit. Berilah kabar gembira, janganlah membuat orang lari.” (HR. Bukhari no. 69)</p>
<p><strong>Pelajaran kesembilan</strong></p>
<p>Jika orang melihat sesuatu pada kita yang dirasa asing pada diri kita, maka hendaklah kita menghilangkan keanehan yang dia anggap sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Qotadah tadi ketika Kabsyah merasa aneh dengan apa yang dia lakukan.</p>
<p>Demikian apa yang kita kaji dan kita gali dari hadits ini. Semoga yang sedikit ini, bisa menambah ilmu kita dan semoga bisa membuahkan amal sholeh.<br />
Alhamdulillallahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</p>
<p>Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah di kitab Fathu Dzil Jalali Wal Ikrom bisyarh Bulughil Marom, hal. 107-114, terbitan: Madarul Wathon Lin Nasyr.</p>
<p>Pangukan, Sleman, 16 Shofar 1430 H<br />
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya<br />
Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>sumber: www.rumaysho.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendambasurga.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendambasurga.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendambasurga.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendambasurga.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendambasurga.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendambasurga.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendambasurga.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendambasurga.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendambasurga.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendambasurga.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendambasurga.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendambasurga.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendambasurga.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendambasurga.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendambasurga.wordpress.com&amp;blog=6457982&amp;post=24&amp;subd=pendambasurga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/18/mengenal-kucing-di-sekitar-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e5d3cdd3c7421085cfbd12027a115db?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akhidedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khomr Dan Parfum Beralkohol, Najis Ataukah Tidak?</title>
		<link>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/18/khomr-dan-parfum-beralkohol-najis-ataukah-tidak/</link>
		<comments>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/18/khomr-dan-parfum-beralkohol-najis-ataukah-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 00:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akhidedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendambasurga.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah. Pada posting kali ini, insya Allah kami akan mengkaji suatu permasalahan yang kami rasa sebagian orang masih rancu mengenai hal ini yaitu mengenai minuman keras (khomr). Yang akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendambasurga.wordpress.com&amp;blog=6457982&amp;post=20&amp;subd=pendambasurga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.<br />
Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah. Pada posting kali ini, insya Allah kami akan mengkaji suatu permasalahan yang kami rasa sebagian orang masih rancu mengenai hal ini yaitu mengenai minuman keras (khomr). Yang akan kami bahas bukanlah masalah pengharaman minuman keras. Mengenai masalah yang satu ini, kami rasa sudah jelas mengenai keharamannya. Namun, yang akan kami kaji adalah apakah minuman keras najis atau tidak. Masalah ini akan menjalar ke masalah lainnya yaitu mengenai masalah parfum yang beralkohol apakah najis ataukah tidak. Semoga dengan pembahasan ini dapat menjawab kerancuan yang ada. Semoga bermanfaat.<br />
<span id="more-20"></span><br />
<strong>Ayat yang Menyatakan Haramnya Khomr</strong></p>
<p>Mengenai ayat yang kami maksudkan di sini, silakan para pembaca lihat dalam surat Al Ma’idah ayat 90.<br />
Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah <strong>rijsun</strong> termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 90)</p>
<p>Ayat inilah yang jelas-jelas menunjukkan mengenai haramnya khomr (minuman keras) dari beberapa sisi. Khomr dikatakan rijsun dan rijsun adalah suatu yang jelek dan kotor. Meminum khomr juga tergolong perbuatan setan. Allah menutup ayat di atas dengan memerintahkan untuk menjauhi hal-hal tersebut. Inilah yang menjadi alasan diharamkannya khomr.</p>
<p><strong>Najisnya Khomr [?]</strong></p>
<p>Khamr Dari ayat di atas, mayoritas ulama berdalil bahwa khomr di samping haram, juga najis. Mereka memaknakan rijsun dalam ayat di atas dengan najis yang riil. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah empat ulama madzab, termasuk Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.<br />
Namun ada juga ulama lainnya yang menyatakan bahwa khomr memang haram, namun khomr tidak najis (yakni suci). Inilah pendapat yang dipilih oleh Robi’ah, Al Laits, Al Maziniy, dan ulama salaf lainnya. Sedangkan ulama belakangan yang berpendapat seperti ini adalah Asy Syaukaniy, Ash Shon’ani, Ahmad Syakir, dan Syaikh Al Albani rahimahumullah. Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat. Perhatikan penjelasan selanjutnya.<br />
<strong><br />
3 Alasan Para Ulama yang Menyatakan Khomr Tidaklah Najis</strong></p>
<p><strong>Alasan pertama: Tidak ada dalil yang menyatakan najisnya khomr.</strong><br />
Hal ini dapat dilihat dari beberapa tinjauan.<br />
[1] Perlu diketahui bahwa kata rijsun yang disebutkan dalam surat Al Maidah ayat 90 di atas adalah kata musytarok, yaitu mengandung banyak makna. Di antara maknanya adalah: kotor, haram, jelek, adzab, laknat, kufur, kejelekan, dan najis.</p>
<p>[2] Kami tidak menemui tafsiran dari para ulama salaf yakni para sahabat yang memaknai rijsun dalam ayat tersebut dengan najis. Bahkan yang ditemukan adalah seperti perkataan Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan bahwa makna rijsun adalah as sakhthu (murka). Ibnu Zaid memaknakan rijsun adalah asy syar (kejelekan).</p>
<p>[3] Kata rijsun dalam ayat lain selain dari ayat ini, tidak ada dari ayat-ayat tersebut yang menggunakan makna rijsun adalah najis. Kita dapat menemukan hal ini dalam tiga ayat selain ayat di atas:<br />
Ayat pertama,<br />
كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ<br />
“Begitulah Allah menimpakan siksa (ar rijs) kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al An’am: 125). Lihatlah makna ar rijs dalam ayat ini bukanlah najis, namun bermakna siksaan (adzab).<br />
Ayat kedua,<br />
إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ<br />
“Sesungguhnya mereka itu adalah kotor (rijsun) dan tempat mereka jahannam.” (QS. At Taubah: 95)<br />
Ayat yang menerangkan mengenai kondisi orang musyrik di sini, kata rijs yang ada bukanlah bermakna najis namun bermakna qobih (sesuatu yang kotor).<br />
Ayat ketiga,<br />
فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ<br />
“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang rijs itu.” (QS. Al Hajj: 30)<br />
Kata rijs dalam ayat ini bukanlah menunjukkan bahwa berhala itu najis secara riil. Namun makna rijs dalam ayat yang ketiga adalah sebab mendapatkan adzab.</p>
<p>[4] Dalam surat Al Maidah ayat 90 di atas terdapat juga kata lainnya yang dinamakan rijsun yaitu anshob (berhala) dan mengundi nasib dengan anak panah. Padahal kedua hal ini tidaklah najis. Inilah dalil yang memalingkan makna rijsun dari makna najis yang riil (konkret) dan dialihkan ke makna najis yang sifatnya abstrak. Ringkasnya kata rijsun dalam ayat tersebut bermakna najis yang bastrak dan bukanlah najis yang riil (konkrit). Hal ini juga sebagaimana firman Allah yang menjelaskan mengenai kondisi orang-orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman,<br />
إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ<br />
“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu rijsun.” (QS. At Taubah: 28). Padahal terdapat dalil-dalil yang menunjukkan bahwa dzat orang Musyrik tidaklah najis, namun yang dianggap najis (kotor) adalah amalan mereka. Pahamilah hal ini!</p>
<p>[5] Yang perlu diperhatikan lagi bahwa diharamkannya khomr tidaklah menunjukkan najisnya. Ingatlah kaedah yang biasa disebutkan oleh para ulama:</p>
<p><strong>Sesuatu yang haram belum tentu najis. Namun sesuatu yang najis pastilah haram.</strong></p>
<p>Semacam sutrah adalah pakaian yang haram digunakan oleh pria, namun sutrah tidak dikatakan najis.</p>
<p>[6] Dalam surat Al Maidah ayat 90 dikatakan dalam penutup ayat bahwa amalan-amalan tadi termasuk amalan syaithon. Maka ini menunjukkan bahwa amalan tersebut adalah rijsun secara amal yang bermakna kotor, haram atau dosa, dan bukanlah rijsun yang bermakan najis hakiki (najis rill).<br />
<strong><br />
Alasan kedua: Terdapat dalil yang menyatakan bahwa khomr itu suci (tidak najis).</strong><br />
Sebagaimana hal ini dapat kita lihat pada hadits dari Anas bin Malik tentang kisah pengharaman khomr. Pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru dengan berkata:</p>
<p>أَلاَ إِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ<br />
“Ketahuilah, khomr telah diharamkan.” (HR. Bukhari 2464 dan Muslim 1980)</p>
<p>Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa ketika bejana-bejana khomr pun dihancurkan dan penuhlah jalan-jalan kota Madinah dengan khomr. Padahal ketika itu orang-orang pasti ingin melewati jalan tersebut. Jika khomr najis, maka pasti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyuruh membersihkannya sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintakan untuk membersihkan kencing orang Badui di masjid. Jika khomr najis tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan orang-orang membuangnya di jalan begitu saja.<br />
<strong><br />
Alasan ketiga: hukum asal segala sesuatu adalah suci.</strong></p>
<p>Jika kita mau menilai sesuatu najis, termasuk pula khomr, maka perlu adanya dalil shahih yang memalingkannya dari hukum asalnya tadi. Jika tidak ada, maka kita tetap berpegang pada hukum asal bahwa segala sesuatu itu suci.</p>
<p><strong>Jadi, kesimpulan pembahasan di atas: Khomr tidaklah najis, namun haram.</strong> [Pembahasan di atas adalah faedah pembahasan dalam Kitab Shohih Fiqih Sunnah, 1/75-77, Abu Malik]<br />
<strong><br />
Bolehkah Menggunakan Parfum Beralkohol?</strong></p>
<p>Alkohol kita ketahui bersama, dia termasuk dalam kategori khomr. Dari penjelasan di atas, tentu para pembaca bisa menyimpulkan bahwa alkohol tidaklah najis, begitu juga dengan parfum yang beralkohol. Lalu ada sesuatu hal yang kami ingatkan di sini. Memang parfum beralkohol tidaklah najis, namun bisa jadi dihukumi <strong>haram</strong> karena kadar alkohol yang terlalu tinggi sehingga dapat membuat mabuk. Padahal segala sesuatu yang yang memabukkan adalah haram. Agar lebih jelas kami sampaikan fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berikut ini.</p>
<p>“Parfum-parfum yang mengandung alkohol yang bukan minyak tidaklah najis, namun bisa jadi hukumnya adalah harom. Hukumnya haram jika persentase alkohol pada parfum-parfum tersebut besar hingga menjadikan parfum-parfum tersebut suatu cairan yang memabuka. Jika demikian, jadilah parfum tersebut memabukan (khomr) dan masuklah ia dalam keumuman hadits-hadits yang melarang dari jual beli dan pembuatan khomr. Maka tidaklah boleh bagi kaum muslimin jika demikian untuk menggunakan parfum tersebut karena jenis penggunaan apapun terhadap parfum ini telah masuk dalam keumuman firman Allah (yang artinya), “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al Maa’idah :2). Dan sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, “Allah melaknat khomr pada sepuluh perkara, peminumnya, penuangnya, yang meminta untuk dituangkan, yang membawanya, yang dibawakan untuknya, yang menjualnya, yang membelinya” (Al-Hadits). Oleh karenanya kami menasehati untuk menjauhi perdagangan parfum-parfum yang mengandung alkohol terlebih lagi jika tertulis dalam labelnya bahwa kandungan alkoholnya 60 persen atau 70 persen, maknanya yaitu memungkinkan untuk mengubah parfum tersebut menjadi minuman yang memabukan walaupun tidak najis secara dzatnya. (Fatawa Al-Madinah Al-Munawwaroh no.23. Dinukil dari tulisan Al Ustadz Firanda, penjelasan hadits no. 46, artikel Untaian Nasehat)</p>
<p>Jadi, jika kandungan alkohol sangat tinggi, maka sudah seharusnya parfum semacam itu ditinggalkan dan beralih pada parfum yang lebih selamat yang tidak mengandung alkohol. Namun berapa kadar (kandungan) alkohol dalam parfum yang bisa dinilai memabukkan? Mungkin para pembaca yang lebih pakar dalam ilmu kimia bisa melakukan peninjauan lebih jauh mengenai hal ini.<br />
Adapun mengenai penggunaan alkohol dalam obat-obatan, insya Allah akan kami kaji dalam posting selanjutnya. Semoga Allah memudahkan urusan ini.<br />
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian. Semoga Allah selalu menambahkan kita ilmu yang bermanfaat.<br />
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.</p>
<p>Pangukan, Sleman, 21 Shofar 1430 H<br />
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya<br />
Muhammad Abduh Tuasikal, ST</p>
<p>sumber: www.rumaysho.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendambasurga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendambasurga.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendambasurga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendambasurga.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendambasurga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendambasurga.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendambasurga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendambasurga.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendambasurga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendambasurga.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendambasurga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendambasurga.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendambasurga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendambasurga.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendambasurga.wordpress.com&amp;blog=6457982&amp;post=20&amp;subd=pendambasurga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/18/khomr-dan-parfum-beralkohol-najis-ataukah-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e5d3cdd3c7421085cfbd12027a115db?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akhidedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MASALAH HIJAB KETIKA SHOLAT BERJAMA’AH ANTARA LAKI-LAKI DENGAN WANITA</title>
		<link>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/05/masalah-hijab-ketika-sholat-berjama%e2%80%99ah-antara-laki-laki-dengan-wanita/</link>
		<comments>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/05/masalah-hijab-ketika-sholat-berjama%e2%80%99ah-antara-laki-laki-dengan-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 04:25:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akhidedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendambasurga.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Di kebanyakan masjid sekarang ini dapat dijumpai adanya hijab yang membatasi antara jama’ah laki-laki dengan jama’ah wanita ketika sholat berjama’ah, sehingga terkadang terjadi kerancuan pada jama’ah wanita ketika imam melakukan gerakan sholat yang tidak biasa, yang tidak bisa diikuti melainkan dengan melihat jama’ah laki-laki, seperti ketika imam melakukan sujud tilawah, atau ketika imam melakukan kesalahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendambasurga.wordpress.com&amp;blog=6457982&amp;post=8&amp;subd=pendambasurga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;" align="left">Di kebanyakan masjid sekarang ini dapat dijumpai adanya hijab yang membatasi antara jama’ah laki-laki dengan jama’ah wanita <span style="text-decoration:underline;">ketika sholat berjama’ah</span>, sehingga terkadang terjadi kerancuan pada jama’ah wanita ketika imam melakukan gerakan sholat yang tidak biasa, yang tidak bisa diikuti melainkan dengan melihat jama’ah laki-laki, seperti ketika imam melakukan sujud tilawah, atau ketika imam melakukan kesalahan dalam gerakan sholat seperti kelebihan/kekurangan jumlah roka’at, dan yang selainnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Pada kesempatan kali ini kami ingin membahas tentang masalah ini, yakni dari sisi adakah hijab ketika sholat berjama’ah pada zaman Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em>?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p><span id="more-8"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Tentang boleh tidaknya memasang hijab ketika sholat berjama’ah ini terdapat khilaf di antara para ‘ulama, di antara mereka ada yang membolehkan dan di antara mereka ada yang melarang, bahkan membid’ahkan sebagaimana pendapat asy-Syaikh al-Albani<span style="color:#ff0000;">[1]</span>. Namun kami belum mengetahui hujjah yang kuat dari para ‘ulama yang membolehkan memasang hijab yang tertutup rapat. Kemungkinan <em>‘illah</em> yang mereka jadikan alasan untuk memasang hijab -sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani ketika membantah pendapat dipasangnya hijab ini- adalah berbedanya wanita zaman sekarang dengan wanita di zaman Rosululloh dahulu, dimana para wanita sekarang banyak yang mereka masuk masjid dengan memakai pakaian ketat, celana, berhias, dll yang intinya dapat menyebabkan fitnah bagi laki-laki yang melihat mereka<span style="color:#ff0000;">[2]</span>. Oleh karena itu, <span style="text-decoration:underline;">pembahasan di sini kami batasi untuk kondisi jika para wanita yang ikut sholat berjama’ah mengenakan pakaian yang menutup aurot dengan benar</span><span style="color:#ff0000;">[3]</span>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Alloh <em>azza wa jalla</em> berfirman:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><em>“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.</em><em>“</em> [QS. An-Nisa' : 59]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Berikut ini beberapa dalil yang menunjukkan tidak adanya hijab ketika sholat jama’ah di zaman Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em>:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#0000ff;">(1)</span></strong> Ibnu ‘Abbas <em>rodhiyallohu anhuma</em> berkata :</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">كانت امرأة تصلي خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم حسناء من أحسن الناس </span></span><span style="font-size:medium;">[</span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">قال ابن عباس </span></span><span style="font-size:medium;">: </span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">لا والله ما رأيت مثلها قط</span></span><span style="font-size:medium;">] </span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">فكان بعض القوم يتقدم حتى يكون في الصف الأول لئلا يراها ويستأخر بعضهم حتى يكون في الصف المؤخر فإذا ركع نظر من تحت إبطيه </span></span><span style="font-size:medium;">[</span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">وجافى يديه</span></span><span style="font-size:medium;">] </span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">فأنزل الله تعالى </span></span><span style="font-size:medium;">: </span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">ولقد علمنا المستقدمين منكم ولقد علمنا المستأخرين</span></span><span style="font-size:medium;">.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Adalah seorang wanita menunaikan sholat di belakang Rosullullah (maksudnya di shof kaum wanita bukan tepat di belakang nabi, pent). Dia adalah seorang wanita yang sangat cantik dan termasuk secantik-cantiknya manusia. (Ibnu Abbas sampai mengatakan : Demi Allah aku belum pernah sama sekali melihat seorang wanita yang secantik itu). Sebagian dari jama’ah sholat ada yang memilih maju ke depan sehingga menempati shof pertama agar tidak dapat melihat si wanita cantik itu. Dan sebagian lainnya memperlambat datangnya sehingga mereka menempati shof yang terakhir. Ketika rukuk ia melihat si wanita cantik itu melalui celah bawah ketiaknya (dan ia merenggangkan kedua tangannya). Maka kemudian Allah menurunkan ayat : <em>“</em></span><em><span style="color:#0000ff;">Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada-mu dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripadamu).</span></em><span style="color:#0000ff;"><em>“</em>(Al-Hijr:24, pent).” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">[HR. Abu Dawud ath-Thoyalisi dalam <em>Musnad</em>-nya (2712), al-Baihaqi dalam <em>Sunan</em>-nya (3/98), Ahmad (1/305), at-Tirmidzi (2/191), Nasaa'i (1/139), Ibnu Majah (1046), Ibnu Khuzaimah dalam <em>Shohih</em>-nya (No. 1696 - 1697), Ibnu Hibban (1749), ath-Thobari dalam tafsirnya (13/18), al-Hakim (2/353), dan juga al-Baihaqi dari jalan lain dari Nuh bin Qois. Hadits ini dihohihkan al-hakim dan disepakati adz-Dzahabi, dishohihkan pula oleh Syaikh al-Albani (dalam <em>ash-Shohihah</em> no. 2472) dan Syaikh Ahmad Syakir (4/278). Lafadz ini dinukil dari <em>ash-Shohihah</em> no. 2472]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Kami katakan : Hadits ini jelas sekali menunjukkan tidak adanya hijab ketika sholat jama’ah di zaman Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em>. Andaikata ada hijab, tentu sebagian orang yang disebutkan dalam hadits ini tidak akan dapat melihat wanita cantik itu ketika mereka rukuk.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Dan dari hadits ini dapat diambil faidah bahwa ketika zaman Rosululloh pun fitnah wanita sudah ada, bahkan di masjid Nabawi ketika itu! Akan tetapi Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> tidak memerintahkan untuk memasang hijab yang menutup pandangan jama’ah laki-laki kepada wanita dan sebaliknya, bahkan yang ditegur dalam ayat tadi adalah kaum laki-lakinya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Jika dikatakan : bukankah hadits ini diperselisihkan keshohihannya?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Kami katakan : <em>Na’am</em>, memang ada di antara para ‘ulama yang mendho’ifkan hadits ini seperti al-Imam Ibnu Katsir <em>rohimahulloh</em>, Syu’aib al-Arnauth, dll. Sebagiannya telah dibantah oleh asy-Syaikh al-Albani dalam <em>ash-Shohihah</em> no. 2472. Seandainya kita anggap hadits ini dho’if, maka masih ada hadits-hadits lain yang menunjukkan tidak adanya hijab di zaman Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em>, sebagiannya akan kami sebutkan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#0000ff;">(2)</span></strong> Al-Imam Muslim <em>rohimahulloh</em> menyebutkan dalam kitab <em>shohih</em>-nya :</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">بَاب أَمْرِ النِّسَاءِ الْمُصَلِّيَاتِ وَرَاءَ الرِّجَالِ أَنْ لَا يَرْفَعْنَ رُءُوسَهُنَّ مِنْ السُّجُودِ حَتَّى يَرْفَعَ الرِّجَالُ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">“Bab wanita yang sholat di belakang laki-laki diperintahkan untuk tidak mengangkat kepala mereka dari sujud sampai laki-laki bangkit dari sujud.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Kemudian beliau membawakan hadits Sahl bin Sa’ad <em>rodhiyallohu anhu</em>, ia berkata :</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;">لَقَدْ رَأَيْتُ الرِّجَالَ عَاقِدِي أُزُرهِمْ فِي أَعْنَاقِهِمْ مِثْلَ الصِّبْيَانِ مِنْ ضيقِ الْأُزُرِ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ لَا تَرْفَعْنَ رُءُوسَكُنَّ حَتَّى يَرْفَعَ الرِّجَالُ</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Sungguh aku telah melihat para laki-laki mengikat kain-kain mereka di leher-leher mereka, seperti anak kecil, karena terbatasnya kain mereka, di belakang nabi. Maka berkata seseorang : “Wahai para wanita! Janganlah kalian mengangkat kepala kalian sampai para laki-laki bangkit (dari sujud, pent).”</span> [HR. Muslim no. 441]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Kami katakan : seandainya ketika itu ada hijab yang menutup pandangan jama’ah wanita kepada jama’ah laki-laki, tentunya tidak akan ada yang melarang para wanita untuk mengangkat kepalanya sebelum laki-laki bangkit dari sujud.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#0000ff;">(3)</span></strong> Dari Abu Huroiroh <em>rodhiyallohu anhu</em>, Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Sebaik-baik shaf pria adalah shaf yang pertama dan sejelek-jelek shaf pria adalah yang paling akhir. Sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhir dan sejelek-jeleknya yang paling depan.”</span> [HR. Muslim no. 440, an-Nasa'i no. 820, Abu Daud no. 678, Ibnu Majah no. 1000, at-Tirmidzi no. 224]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Berkata Al-Imam An-Nawawi <em>rohimahulloh</em>:</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.66cm;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">والمراد بشر الصفوف في الرجال والنساء أقلها ثوابا وفضلا وأبعدها من مطلوب الشرع وخيرها بعكسه وإنما فضل آخر صفوف النساء الحاضرات مع الرجال لبعدهن من مخالطة الرجال <span style="text-decoration:underline;">ورؤيتهم</span> وتعلق القلب بهم عند رؤية حركاتهم وسماع كلامهم ونحو ذلك وذم أول صفوفهن لعكس ذلك والله أعلم</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.66cm;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">“Dan yang dimaksud dengan sejelek-jelek shof pada laki-laki dan wanita adalah yang paling sedikit ganjaran dan keutamaannya serta yang paling jauh dari keinginan syari’at, sedangkan yang dimaksud dengan sebaik-baik shof adalah yang sebaliknya. Dan keutamaan shof terakhir bagi wanita yang hadir berjama’ah bersama laki-laki adalah untuk menjauhkan mereka dari ikhtilath dengan laki-laki, <span style="text-decoration:underline;">pandangan</span> laki-laki dan terpesonanya para wanita ketika <span style="text-decoration:underline;">melihat</span> gerakan laki-laki dan mendengar perkataan mereka, dan yang semisal itu. Dan tercelanya shof wanita yang paling depan adalah sebaliknya, <em>Wallahu a’lam</em>.”<span style="color:#ff0000;">[4]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Berkata Al-Imam Ash-Shon’ani <em>rohimahulloh</em>:</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.66cm;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">وفي حديث الباب دلالة على جواز اصطفاف النساء صفوفاً وظاهره سواء كانت صلاتهن مع الرجال أو مع النساء وقد علل خيرية آخر صفوفهن بأنهن عند ذلك يبعدن عن الرجال وعن <span style="text-decoration:underline;">رؤيتهم</span> وسماع كلامهم إلا أنها علة لا تتم إلا إذا كانت صلاتهن مع الرجال وإما إذا صلين وإمامتهن امرأة فصفوفهن كصفوف الرجال أفضلها أولها</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.66cm;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Dan dalam hadits tersebut ada penunjukan bolehnya wanita membuat beberapa baris shof, dan dhohirnya baik sholat mereka berjama’ah bersama laki-laki maupun bersama perempuan. Dan ‘<em>Illah</em> (sebab) kebaikan shof yang terakhir bagi wanita karena dengan itu mereka menjadi jauh dari laki-laki, dan <span style="text-decoration:underline;">pandangan</span> serta pendengaran laki-laki terhadap perkataan mereka. ‘<em>Illah</em> (sebab) ini terjadi jika mereka sholat bersama laki-laki, adapun jika mereka sholat dan imam mereka adalah wanita maka shof-shof mereka seperti shof laki-laki yaitu yang paling afdhol.”<span style="color:#ff0000;">[5]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Kami katakan : perkataan ‘ulama di atas (dan masih ada perkataan ‘ulama lainnya yang serupa maknanya dengan perkataan di atas) menjelaskan tentang <em>‘illah</em> dari dijauhkannya shof laki-laki dengan shof wanita, di antaranya perkataan mereka : “…pandangan laki-laki…”, hal ini menunjukkan bahwa para ‘ulama tersebut memahami bahwa di zaman Rosululloh ketika itu tidak ada hijab yang menghalangi pandangan jama’ah wanita ke jama’ah laki-laki. Dan dalam hadits ini juga menunjukkan bahwa pemisah antara jama’ah laki-laki dan jama’ah wanita ketika itu adalah jarak.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#0000ff;">(4)</span></strong> Dari Ummu Salamah <em>rodhiyallohu anha</em>, ia berkata :</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">كُنَّ إِذَا سَلَّمْنَ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ قُمْنَ وَثَبَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ صَلَّى مِنْ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللَّهُ فَإِذَا قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ الرِّجَالُ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“kami jika selesai salam dari sholat wajib, kami berdiri (pergi, pent) sedangkan Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> tetap pada tempatnya untuk sementara waktu dan begitu pula para laki-laki yang ikut sholat. Jika Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> bangkit, maka para laki-laki pun bangkit.”</span> [HR. al-Bukhori no. 828, an-Nasa'i no. 1333, Ibnu Hibban no. 2233, Ibnu Khuzaimah no. 1718, dll]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Dalam riwayat lainnya dari Ummu Salamah <em>rodhiyallohu anha</em>, ia berkata :</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا سلم يمكث في مكانه يسيرا</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Nabi <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> jika salam (selesai sholat, pent), beliau duduk sebentar di tempatnya.”</span> [HR. al-Bukhori no. 812]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Al-Imam Ibnu Syihab az-Zuhri <em>rohimahulloh</em> berkata menerangkan maksud hadits ini:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">فَنُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ لِكَيْ يَنْفُذَ مَنْ يَنْصَرِفُ مِنْ النِّسَاءِ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">“Kami berpendapat -<em>Wallohu A’lam</em>- agar para wanita bisa segera pergi.” [HR. al-Bukhori no. 812]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani <em>rohimahulloh</em> dalam <em>Fathul Baari</em> (2/336) berkata :</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">وَفِي الْحَدِيث مُرَاعَاة الْإِمَام أَحْوَالَ الْمَأْمُومِينَ ، وَالِاحْتِيَاط فِي اِجْتِنَاب مَا قَدْ يُفْضِي إِلَى الْمَحْذُور</span></span><span style="font-size:medium;">. </span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">وَفِيهِ اِجْتِنَاب مَوَاضِع التُّهَم ، وَكَرَاهَة مُخَالَطَة الرِّجَال لِلنِّسَاءِ فِي الطُّرُقَات فَضْلًا عَنْ الْبُيُوت</span></span><span style="font-size:medium;">. </span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">وَمُقْتَضَى التَّعْلِيل الْمَذْكُور أَنَّ الْمَأْمُومِينَ إِذَا كَانُوا رِجَالًا فَقَطْ أَنْ لَا يُسْتَحَبّ هَذَا الْمُكْث، وَعَلَيْهِ حَمَلَ اِبْن قُدَامَةَ حَدِيث عَائِشَة </span></span><span style="font-size:medium;">” </span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">أَنَّهُ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُد إِلَّا مِقْدَار مَا يَقُول </span></span><span style="font-size:medium;">: </span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَام وَمِنْك السَّلَام تَبَارَكْت يَا ذَا الْجَلَال وَالْإِكْرَام </span></span><span style="font-size:medium;">” </span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">أَخْرَجَهُ مُسْلِم </span></span><span style="font-size:medium;">: </span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">وَفِيهِ أَنَّ النِّسَاء كُنَّ يَحْضُرْنَ الْجَمَاعَة فِي الْمَسْجِد</span></span><span style="font-size:medium;">.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">“Dalam hadits ini terdapat dalil agar imam memperhatikan keadaan para makmum, dan berhati-hati dalam menjauhi hal-hal yang bisa menghantarkan kepada perbuatan yang terlarang. Dan pada hadits ini juga terdapat dalil tentang menjauhkan tempat-tempat yang rusak, dan dibencinya ikhthilath antara laki-laki dengan wanita di jalan-jalan apalagi di rumah-rumah. Dan konsekuensi dari ta’lil yang telah disebutkan, bahwa jika makmumnya hanya laki-laki saja maka diam (beberapa saat, pent) tersebut tidak disunnahkan. Dan kepada makna inilah Ibnu Qudamah membawa makna hadits ‘Aisyah : “Bahwa beliau <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> jika selesai salam (dari sholat, pent), tidak duduk kecuali sekedar mengucapkan : “<em>Allohumma Antas-Salaam wa minkas-Salaam tabarokta yaa Dzal Jalaali wal Ikrom</em>“. Dikeluarkan oleh Muslim, dan pada hadits ini terdapat dalil bahwa para wanita dahulu menghadiri sholat jama’ah di masjid.”-<em>selesai nukilan</em>-</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Kami katakan : perkataan para ‘ulama di atas menunjukkan bahwa Rosululloh<em> shollallohu alaihi wa sallam</em> berdiam sebentar dan tidak langsung memalingkan badannya ke arah makmum (sebagaimana dalam hadits-hadits lainnya) untuk memberikan kesempatan kepada para wanita untuk segera meninggalkan masjid. Seandainya ada hijab menghalangi pandangan ke arah jama’ah wanita, tentu tidak perlu menunggu perginya para wanita.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#0000ff;">(5)</span></strong> Ummul Mu’minin ‘Aisyah <em>rodhiyallohu anha</em> berkata :</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="right">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">لَوْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ الْمَسْجِدَ كَمَا مُنِعَتْ نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ قَالَ فَقُلْتُ لِعَمْرَةَ أَنِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مُنِعْنَ الْمَسْجِدَ قَالَتْ نَعَمْ</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Seandainya Rosullullah mengetahui apa yang diperbuat oleh kaum wanita, sungguh beliau akan melarang mereka ke masjid-masjid sebagaimana beliau telah melarang wanita-wanita Bani Isroil darinya.”</span><span style="color:#000000;"> [HR. Muslim no. 144, Abu Dawud no. 569, Ahmad no. 26024, al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro no. 5155, Ishaq bin Rohawaih dalam Musnadnya no. 639 &amp; 1751]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Al-Imam an-Nawawi <em>rohimahulloh</em> berkata dalam Syarh Muslim (4/164) :</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">يعنى من الزينة والطيب وحسن الثياب والله أعلم</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">“Yakni dari (memakai) perhiasan, wewangian dan pakaian yang bagus. <em>Wallohu A’lam</em>.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Kami katakan : Dalam atsar Aisyah ini maknanya adalah bahwa jika Rosululloh mengetahui apa yang dilakukan para wanita dari perbuatan <em>tabarruj</em> (berhias), dll maka beliau akan melarang para wanita untuk pergi ke masjid, dan Aisyah tidak mengatakan: ” Seandainya Rosullullah mengetahui apa yang diperbuat oleh kaum wanita, sungguh beliau akan memasang hijab di masjid.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Terlebih lagi jika kondisinya seperti yang sedang kita bahas, yakni jika jama’ah wanita memakai jilbab yang syar’i<span style="color:#ff0000;">[6]</span>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Dan keberadaan hijab yang menghalangi pandangan jama’ah wanita untuk melihat gerakan imam atau jama’ah laki-laki terkadang dapat membuat kerancuan-kerancuan bahkan merusak sholat mereka sampai ke tingkat batalnya sholat mereka tersebut. Kami berikan beberapa contoh:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#000080;"><strong>(1) Ketika Imam Sujud Tilawah</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Ini yang paling sering membuat rancu. Jika pandangan jama’ah wanita terhalangi dengan hijab yang rapat, mereka tidak akan bisa membedakan ketika imam membaca ayat sajadah lalu ia bertakbir, apakah takbirnya itu untuk sujud tilawah ataukah rukuk? Terutama jika ayat sajadah yang dibaca imam terletak di akhir surat seperti pada surat al-’Alaq, atau jika para jama’ah wanita tidak mengetahui letak-letak ayat sajadah ketika dibaca imam. Hal ini seringkali menyebabkan jama’ah wanita rukuk ketika imam bertakbir untuk sujud tilawah, lalu ketika imam kembali bangkit dari sujud tilawah dan meneruskan bacaan atau rukuk, jadilah para wanita itu bingung.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Hal ini terkadang membuat imam sholat tidak melakukan sunnah sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah dikarenakan khawatir akan membuat jama’ah wanita kebingungan, sehingga menjadi semakin asinglah sunnah sujud tilawah ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#000080;"><strong>(2) Ketika Imam melakukan kesalahan/lupa</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Jika pandangan jama’ah wanita terhalangi dengan hijab yang rapat, mereka tidak akan bisa membedakan ketika imam salah/lupa dalam jumlah roka’at atau kurang tasyahud awal atau sujudnya kurang, dll, sehingga pergerakan sholat jama’ah wanita menjadi berbeda dengan imam.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Misalnya : imam lupa untuk tasyahud awal, lalu langsung bertakbir “<em>Allohu Akbar</em>” untuk berdiri. Jika tidak ada jama’ah laki-laki yang menegur imam, para jama’ah wanita yang pandangannya tertutup dengan hijab akan mengira imam duduk tasyahud awal, sehingga posisi imam ketika itu berdiri sedangkan posisi jama’ah wanita duduk tasyahud.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Dan pada kondisi ini juga bisa membatalkan sunnahnya jama’ah wanita menepuk tangan untuk menegur imam jika salah/lupa, dikarenakan mereka tidak mengetahui kesalahan/kelupaan imam yang tidak terlihat tersebut.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#000080;"><strong>(3) Ketika Imam melakukan sujud sahwi</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Begitu pula jika imam melakukan sujud sahwi, baik sebelum salam maupun sesudah salam, jama’ah wanita yang tidak paham tentang hukum ini akan kebingungan. Terutama jika sujud sahwi dilakukan sebelum salam, jama’ah wanita akan sulit membedakan apakah imam takbir untuk sujud sahwi? Ataukah menambah jumlah roka’at (yakni jika imam lupa lagi)?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#000080;"><strong>(3) Ketika Imam melakukan duduk istirahat ketika bangkit dari sujud</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Jika pandangan jama’ah wanita terhalangi dengan hijab yang rapat, jama’ah wanita yang tidak melakukan sunnah duduk istirahat terkadang dapat bergerak mendahului atau berbarengan dengan gerakan imam yang melakukan sunnah duduk istirahat. Padahal Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي إِمَامُكُمْ فَلَا تَسْبِقُونِي بِالرُّكُوعِ وَلَا بِالسُّجُودِ وَلَا بِالْقِيَامِ وَلَا بِالِانْصِرَافِ</span></span><span style="font-size:medium;">…</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah imam kalian, maka janganlah kalian mendahuluiku dalam rukuk, sujud, berdiri dan berpaling….”</span> [HR. Muslim no. 426, Ibnu Khuzaimah no. 1602, Abu Ya'la no. 3952, Ibnu Abi Syaibah no. 7156, dll]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#000080;">(4) Membuat jama’ah wanita berselisih tentang pengaturan shof-nya</span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Ketika ada hijab yang menghalangi/membatasi antara jama’ah wanita dengan jama’ah laki-laki terkadang membuat rancu sebagian jama’ah wanita, apakah shof dimulai dari depan atau dari belakang?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Dalam masalah ini terdapat khilaf di antara para ‘ulama, di antara mereka (seperti asy-Syaikh Sholeh Fauzan <em>hafidzohulloh</em>) ada yang berpendapat jika kondisinya demikian maka shof yang paling utama adalah yang paling depan, sementara sebagian yang lain (seperti asy-Syaikh al-Albani <em>rohimahulloh</em>) berpendapat shof-nya tetap dimulai dari belakang sesuai dengan hadits Abu Huroiroh tentang keutamaan shof yang paling belakang bagi wanita (lihat hadits no. 3 di atas). Sehingga terkadang jama’ah wanita menjadi berselisih, sebagian dari mereka ada yang memulai shof dari depan dan yang sebagian lagi dari belakang.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Asy-Syaikh al-Albani dalam <em>Silsilatul Huda wan Nur</em> menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi pada masyarakat tidak bisa merubah suatu hukum syar’i, dan hijab pemisah (yang menurut beliau adalah bid’ah) tidak bisa merubah hukum sebaik-baik shof wanita adalah yang paling belakang, dan di dalam rekaman tersebut beliau juga membantah pendapat yang mengatakan bahwa masalah hijab ini adalah <em>maslahat mursalah</em>. Barangsiapa yang ingin tahu lebih lanjut silahkan merujuk ke kaset no. 484 pertanyaan ke-14 dalam <em>Silsilatul Huda wan Nur</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Pendapat asy-Syaikh al-Albani ini juga dikuatkan dengan sebagian <em>‘illah</em> yang disebutkan oleh para ‘ulama, yaitu shof wanita dijauhkan untuk <span style="text-decoration:underline;">menjauhkan pendengaran laki-laki</span> dan yang semisalnya. Jika dalam keadaan ada hijab, lalu shof wanita dimulai dari depan, maka perkataan mereka lebih mungkin terdengar laki-laki walaupun mereka tidak dapat terlihat.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#000080;">(5) Jika ada seorang wanita masbuq</span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Jika ada seorang atau beberapa wanita yang ingin mengikuti sholat jama’ah dalam keadaan masbuq dan tidak ada jama’ah wanita lainnya yang ikut sholat sejak awal, maka dalam kondisi pandangan terhalang oleh hijab ini, mereka sulit untuk mengetahui posisi gerakan imam (apakah sedang berdiri atau sujud atau tasyahud, dll) karena yang diketahui hanya melalui suara imam saja yang kebanyakan adalah takbir “<em>Allohu Akbar</em>“. Sehingga hal ini bisa membatalkan ketetapan dalam sunnah bahwa makmum yang masbuq langsung mengikuti posisi imam. Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Jika salah seorang di antara kalian mendatangi sholat (jama’ah) pada saat imam sedang pada suatu keadaan, maka hendaklah ia melakukan (gerakan) sebagaimana yang dilakukan imam.”</span> [HR. at-Tirmidzi no. 591, ath-Thobroni dalam <em>al-Mu'jam al-Kabir</em> no. 267. Dishohihkan al-Albani dalam <em>Shohihul Jami'</em> no. 261]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Kecuali jika jama’ah wanita mau “<em>ngintip</em>” dulu sebelum memulai sholatnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#000080;">(6) Jika suara imam tidak terdengar</span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Jika pandangan jama’ah wanita terhalangi dengan hijab yang rapat, mereka tidak akan bisa mengetahui gerakan imam jika suara imam tersebut tidak terdengar, baik karena imamnya adalah seorang yang sudah tua sehingga suaranya kecil atau memang suara imam tersebut kecil dan tidak menggunakan pengeras suara; atau memakai pengeras suara tapi imam lupa mengeraskan takbirnya; atau pengeras suaranya rusak di tengah-tengah sholat; atau… atau…</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Kecuali jika ada di antara jama’ah laki-laki yang bertugas sebagai <em>muballigh</em> yang menyampaikan/mengeraskan suara takbir imam yang suaranya kecil kepada jama’ah yang di belakang, namun sunnah yang satu ini sudah sangat jarang ditemukan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#000080;"><strong>(7) Jika imam sholat sambil duduk</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika ia rukuk maka rukuklah. Jika ia bangkit, maka bangkitlah. Dan jika ia sholat sambil duduk, maka sholatlah kalian sambil duduk.<strong>“</strong></span><strong> </strong>[HR. al-Bukhori no. 656 &amp; 5534, Muslim no. 412, dll]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Berdasarkan hadits ini, jika imam sholat sambil duduk maka makmum juga sholat sambil duduk. Jama’ah wanita yang terhalang hijab tidak akan mengetahui apakah imam sholat sambil duduk atau berdiri, kecuali jika imam/jama’ah laki-laki dapat terlihat atau imam memberitahukan terlebih dahulu bahwa ia tidak mampu sholat sambil berdiri.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Dan kasus-kasus yang lainnya yang dapat membuat kerancuan bagi jama’ah wanita itu sendiri.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Jika dikatakan: bukankah contoh-contoh kasus di atas jarang terjadi? Sedangkan jika hijab dibuka, kemungkinan timbulnya fitnah lebih besar?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Jawabnya: iya, tetapi kasus-kasus tersebut bisa terjadi sewaktu-waktu dan tidak terduga, yang apabila terjadi hal tersebut dapat merusak sholatnya jama’ah wanita bahkan sampai ke derajat batal, tentu ini adalah madhorot dan bukan maslahat.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Adapun dari sisi timbulnya fitnah wanita, sejak zaman Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> pun sudah ada fitnah wanita, hal ini ditunjukkan dalam hadits Ibnu Abbas di atas (hadits no. 1), hadits wanita khots’amiyyah, dll. Dalam hadits-hadits tersebut yang ditegur adalah para laki-laki, yakni agar mereka memalingkan pandangannya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Dan juga pada asalnya, hijab ketika sholat berjama’ah tidak ada di zaman Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em>, sedangkan saat itu ada kemampuan untuk memasang hijab, namun beliau tidak memasangnya. Akan tetapi yang beliau lakukan adalah dengan menetapkan adab-adab bagi wanita yang ingin sholat di masjid:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#0000ff;">(1)</span></strong> Beliau <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> tidak mewajibkan sholat jama’ah bagi wanita, bahkan meliau mengatakan bahwa sholatnya wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjid. Beliau bersabda:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian dari masjid-masjid, dan rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka.”</span> [HR. Ahmad no. 5471, Abu Dawud no. 567]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Beliau juga bersabda:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">صَلَاةُ الْمَرْأَةِ فِي بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي حُجْرَتِهَا وَصَلَاتُهَا فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي بَيْتِهَا</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Sholatnya seorang wanita di rumahnya lebih baik dari sholatnya di halaman rumahnya, dan sholatnya di <em>makhda’</em>-nya lebih baik daripada sholatnya di rumahnya.”</span> [HR. Abu Dawud no. 570, Ahmad no. 5471, Ibnu Khuzaimah no. 1684, al-Baihaqi dalam <em>as-Sunan al-Kubro</em> no. 5142, dan al-Hakim dalam <em>al-Mustadrok</em> no. 757, al-Hakim berkata : "sesuai syarat asy-Syaikhoin", dan disetujui adz-Dzahabi. Dishohihkan pula oleh al-Albani dalam Shohih Abi Dawud no. 530]</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.66cm;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Yang dimaksud dengan (<span style="font-family:Tahoma;">بيتها</span>) pada hadits ini adalah di dalam rumahnya agar sempurna dalam menutupinya; (<span style="font-family:Tahoma;">حجرتها</span>) maksudnya adalah ‘halaman rumah’ (<span style="font-family:Tahoma;">صحن الدار</span>), Ibnul Malak berkata: “yang dimaksud dengan (<span style="font-family:Tahoma;">الحجرة</span>) adalah yang terdapat pintu-pintu rumah dan kondisinya lebih rendah daripada (<span style="font-family:Tahoma;">البيت</span>).” Dan yang dimaksud dengan <em>‘makhda’</em>-nya’ (<span style="font-family:Tahoma;">مخدعها</span>) adalah rumah kecil yang terdapat di dalam rumah besar yang disimpan di dalamnya barang-barang pribadi seperti kamar yaitu tempat menyembunyikan sesuatu yaitu di dalam lemarinya, lebih baik daripada sholatnya di rumahnya karena adanya perintah pada wanita untuk menutupi dirinya.<span style="color:#ff0000;">[7]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#0000ff;">(2)</span></strong> Beliau <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> mengatakan sebaik-baik shof wanita adalah yang paling belakang dan yang seburuk-buruknya adalah yang paling depan (haditsnya sudah disebutkan di atas).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#0000ff;">(3)</span></strong> Beliau <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> membuat pintu khusus untuk wanita, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar, Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">لَوْ تَرَكْنَا هَذَا الْبَابَ لِلنِّسَاءِ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Alangkah baiknya jika kita tinggalkan pintu ini untuk para wanita.” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">قَالَ نَافِعٌ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ ابْنُ عُمَرَ حَتَّى مَاتَ</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Nafi’ berkata : “Maka Ibnu Umar tidak masuk dari pintu tersebut sampai ia meninggal.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">[HR. Abu Dawud no. 462 &amp; 571, ath-Thobroni dalam <em>al-Mu'jam al-Ausath</em> no. 1018, dll. dishohihkan oleh al-Albani dalam <em>Shohih Sunan Abi Dawud</em> no.439 &amp; 534]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#0000ff;">(4)</span></strong> Beliau <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> melarang para wanita datang ke masjid dengan memakai wewangian.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Dari Abu Hurairoh, Rasulullah bersabda:</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:.66cm;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">إِذَا خَرَجَتْ الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْتَغْتَسِلْ مِنْ الطِّيبِ كَمَا تَغْتَسِلُ مِنْ الْجَنَابَةِ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Jika seorang wanita keluar ke masjid, hendaklah ia mandi dari wewangian (yakni untuk menghilangkan bau wanginya, pent) sebagaimana ia mandi dari junub.”</span> [HR. an-Nasa'i no. 5127, dishohihkan al-Albani dalam <em>ash-Shohihah</em> no. 1031]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong><span style="color:#0000ff;">(5)</span></strong> Beliau <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> mengatakan bahwa jika wanita ingin menegur kesalahan imam maka adalah dengan menepuk tangan. Beliau bersabda:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">التَّسْبِيحُ لِلرِّجَالِ وَالتَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#0000ff;">“Bertasbih bagi laki-laki dan menepuk tangan bagi wanita.”</span> [HR. al-Bukhori no. 1145, Muslim no. 422, dll]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Dan adab-adab lainnya seperti yang dilakukan para shohabiyyah dalam hadits Ummu Salamah yang mereka langsung pulang setelah Rosululloh <em>shollallohu alaihi wa sallam</em> selesai salam. <em>Wallohu A’lam</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Dan kami melihat di sebagian masjid yang di sana orang-orang yang sholat adalah ikhwan dan akhwat yang sudah <em>ngaji</em>, yang para akhwatnya kebanyakan atau bahkan semuanya telah menutup aurot dengan memakai hijab syar’i dan kebanyakan mereka (ikhwan &amp; akhwat) sudah paham tentang adab-adab di masjid, sehingga <em>‘illah-’illah</em> yang dijadikan alasan untuk memasang hijab ketika sholat jama’ah (seperti wanita berpakaian ketat, terbukanya aurot, dll) hampir-hampir sudah tidak ada lagi, sebagaimana di zaman Rosululloh dahulu <em>‘illah-’illah</em> tersebut tidak ada. Jika dengan kondisi ini pada zaman Rosululloh tidak dipasang hijab ketika sholat, lalu kenapa sekarang dengan kondisi yang sama dipasang hijab ketika sholat berjama’ah??</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><em>Wallohu A’lam.</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong>“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad <em>shollallohu alaihi wa sallam</em>.”</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong>Maroji’:</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"># Kitab-kitab hadits &amp; fiqih dalam al-Maktabah asy-Syamilah v.1 &amp; v.2, dengan penomoran dari al-Maktabah asy-Syamilah v.1 (karena lebih cocok dengan kitab aslinya).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"># <em>Silsilatul Huda wan Nur</em>, rekaman durus &amp; fatawa al-Imam Abu Abdirrohman al-Albani.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left">——————</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#ff0000;"><strong>Catatan kaki:</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#ff0000;">[1]</span> Penjelasan beliau dapat didengarkan dalam <em>Silsilatul Huda wan Nur</em> kaset no. 24 pertanyaan ke-6, kaset no. 321 pertanyaan ke-8, kaset no. 351 pertanyaan ke-8, dan kaset no. 484 pertanyaan ke-14.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#ff0000;">[2]</span> Ustadzuna Abu Abdirrohman mengatakan bahwa jika kondisinya demikian maka hijab yang dipasang sebaiknya yang menerawang/agak transparan sehingga kondisi jama’ah wanita tidak terlalu terlihat jelas bagi jama’ah laki-laki, dan jama’ah wanita tetap dapat mengetahui gerakan jama’ah laki-laki yang di depannya sehingga kerancuan-kerancuan dalam gerakan sholat bisa dihindari. <em>Wallohu A’lam</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#ff0000;">[3]</span> Yakni dengan jilbab syar’i bukan dengan pakaian ketat yang hanya membungkus aurot saja yang pada hakikatnya wanita seperti ini belum menutup aurotnya, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits “<em>kasiyaat ‘aariyat</em>” (wanita yang berpakaian tapi telanjang).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#ff0000;">[4]</span> <em>Syarah Shohih Muslim</em> (4/403).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#ff0000;">[5]</span> <em>Subulus Salam</em> (1/46).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#ff0000;">[6]</span> Tentang syarat-syarat jilbab yang syar’i dapat dibaca pada kitab <em>Jilbab Mar’ah Muslimah</em> karya asy-Syaikh al-Albani.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><span style="color:#ff0000;">[7]</span> <em>Aunul Ma’bud</em> 2/194 oleh Syamsul Haq al-’Adzim al-Abadi.</p>
<p>Sumber : <a href="http://tholib.wordpress.com/2007/03/27/masalah-hijab-ketika-sholat-berjamaah/#more-102" target="_blank">http://tholib.wordpress.com/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendambasurga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendambasurga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendambasurga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendambasurga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendambasurga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendambasurga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendambasurga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendambasurga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendambasurga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendambasurga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendambasurga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendambasurga.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendambasurga.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendambasurga.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendambasurga.wordpress.com&amp;blog=6457982&amp;post=8&amp;subd=pendambasurga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/05/masalah-hijab-ketika-sholat-berjama%e2%80%99ah-antara-laki-laki-dengan-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e5d3cdd3c7421085cfbd12027a115db?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akhidedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dimanakah Tempat Berdirinya Makmum Apabila Seorang Diri?</title>
		<link>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/05/dimanakah-tempat-berdirinya-makmum-apabila-seorang-diri/</link>
		<comments>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/05/dimanakah-tempat-berdirinya-makmum-apabila-seorang-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 04:12:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akhidedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/05/dimanakah-tempat-berdirinya-makmum-apabila-seorang-diri/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat PENDAHULUAN Judul di atas merupakan sebuah pertanyaan yang perlu sekali kita jawab dengan jelas dan benar dengan mengambil keterangan dan contoh dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dimanakah sebenarnya tempat berdiri ma&#8217;mum apabila seorang atau sendirian ..? Apakah di belakang Imam atau seharusnya sejajar dengan Imam ..? Dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendambasurga.wordpress.com&amp;blog=6457982&amp;post=3&amp;subd=pendambasurga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat</p>
<p><b>PENDAHULUAN</b></p>
<p>Judul di atas merupakan sebuah pertanyaan yang perlu sekali kita jawab dengan jelas dan benar dengan mengambil keterangan dan contoh dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dimanakah sebenarnya tempat berdiri ma&#8217;mum apabila seorang atau sendirian ..? Apakah di belakang Imam atau seharusnya sejajar dengan Imam ..? Dengan kita melakukan penyelidikan untuk mengetahui contoh yang pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dapatlah kita beramal sesuai yang dikehendaki oleh agama Islam.</p>
<p>Maka di bawah ini saya akan sampaikan dalil-dalil yang tegas dan terang yang menunjukan tempat berdiri ma&#8217;mum jika seorang diri/sendirian.</p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p><b>DALIL PERTAMA</b></p>
<p>Artinya : “Dari Ibnu Abbas, ia berkata ; &#8220;Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada suatu malam. Lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memegang kepalaku dari belakangku, lalu ia tempatkan aku di sebelah kanannya &#8230;.&#8221;. (Shahih Riwayat Bukhari I/177).</p>
<p><b>DALIL KEDUA</b></p>
<p>Artinya : “Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata ; &#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri di sebelah kirinya, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga ia dirikan aku di sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakr yang langsung ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Lalu beliau memegang tangan kami dan beliau mendorong kami sehingga beliau mendirikan kami dibelakangnya&#8221;. (Shahih Riwayat Muslim &amp; Abu Dawud).</p>
<p>Dua dalil di atas mengandung hukum sebagai berikut :</p>
<p>1.	Apabila ma&#8217;mum satu orang harus berdiri di sebelah kanan Imam.</p>
<p>2.	Dan ma&#8217;mum yang seorang itu berdiri <b>di sebelah kanan harus sejajar dengan Imam</b> bukan dibelakangnya. Saya katakan demikian karena di dalam hadits Jabir bin Abdullah sewaktu datang Jabbar bin Shakhr lalu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menempatkannya keduanya dibelakangnya. Ini menunjukan kedua sahabat itu tadinya berada di samping Nabi sejajar dengan beliau. Kemudian Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mendirikan mereka di belakangnya. Tidak akan dikatakan &#8220;Di belakang&#8221; kalau pada awalnya sahabat itu tidak berada sejajar dengan beliau.</p>
<p>3.	Apabila ma&#8217;mum dua orang atau lebih, maka harus berdiri di belakang Imam.</p>
<p><b>DALIL KETIGA</b></p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Ibnu Abbas, ia berkata ; &#8220;Aku pernah shalat di sisi/tepi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan Aisyah shalat bersama kami di belakang kami, sedang aku (berada) di sisi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, aku shalat bersamanya (berjama&#8217;ah)&#8221;.</p>
<p>(Shahih Riwayat Ahmad dan Nasa&#8217;i).</p>
<p><b>KETERANGAN</b></p>
<p>1.	Perkataan, &#8220;Aku shalat di sisi/tepi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, terjemahan dari kalimat &#8220;Shallaitu ila janbin nabiyi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam&#8221;.</p>
<p>2.	JANBUN menurut kamus-kamus bahasa Arab artinya : sisi, tepi, samping, sebelah, pihak, dekat.</p>
<p>3.	Jika dikatakan dalam bahasa Arab &#8220;JANBAN LI JANBIN&#8221; maka artinya : Sebelah menyebelah, berdampingan, bahu-membahu.</p>
<p>4.	Dengan memperhatikan hadits di atas dan memahami dari segi bahasanya, maka dapatlah kita mengetahui bahwa Ibnu Abbas ketika shalat bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, ia berada di samping/sejajar dengan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>5.	Hadits ini menunjukan bahwa <b>perempuan tempatnya di belakang</b>. Baik yang jadi ma&#8217;mum itu hanya seorang perempuan saja atau campur laki-laki dengan perempuan. Di dalam kitab AL-MUWATTHA karangan Imam Malik diterangkan bahwa Ibnu Mas&#8217;ud pernah shalat bersama Umar. Lalu Ibnu Mas&#8217;ud berdiri dekat di sebelah kanan Umar sejajar dengannya.</p>
<p>Diriwayatkan bahwa Ibnu Juraij pernah bertanya kepada Atha&#8217; (seorang tabi&#8217;in), &#8220;Seorang menjadi ma&#8217;mum bagi seorang, dimanakah ia (ma&#8217;mum) harus berdiri .? Jawab Atha&#8217;, &#8220;Di tepinya&#8221;. Ibnu Juraij bertanya lagi, &#8220;Apakah si Ma&#8217;mum itu harus dekat dengan Imam sehingga ia satu shaf dengannya, yaitu tidak ada jarak antara keduanya (ma&#8217;mum dan imam) ?&#8221; Jawab Atha&#8217;; &#8220;Ya!&#8221; Ibnu Juraij bertanya lagi, &#8220;Apakah si ma&#8217;mum tidak berdiri jauh sehingga tidak ada lowong antara mereka (ma&#8217;mum dan imam)? Jawab Atha&#8217; : &#8220;Ya&#8221;. (Lihat : Subulus Salam jilid 2 hal.31).</p>
<p>Dari tiga dalil di atas dan atsar dari sahabat dan seorang tabi&#8217;in besar, maka sekarang dapatlah kita berikan jawaban bahwa ; <b>&#8220;Ma&#8217;mum apabila seorang saja harus berdiri di sebelah kanan dan sejajar dengan Imam&#8221;</b>.</p>
<p>Tidak ada keterangan dan contoh dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, yang menunjukan atau menyuruh ma&#8217;mum apabila seorang diri harus berdiri di belakang Imam meskipun jaraknya hanya sejengkal seperti yang dilakukan oleh kebanyakan saudara-saudara kita sekarang ini. Mudah-mudahan mereka suka kembali kepada sunnah Nabi-nya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Aamiin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendambasurga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendambasurga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendambasurga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendambasurga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendambasurga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendambasurga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendambasurga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendambasurga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendambasurga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendambasurga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendambasurga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendambasurga.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendambasurga.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendambasurga.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendambasurga.wordpress.com&amp;blog=6457982&amp;post=3&amp;subd=pendambasurga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendambasurga.wordpress.com/2009/02/05/dimanakah-tempat-berdirinya-makmum-apabila-seorang-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5e5d3cdd3c7421085cfbd12027a115db?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">akhidedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
